Sabtu, 11 April 2015

mkk;


Selasa, 31 Maret 2015

Pengertian dan Sejarah Paleoantropologi


Fosil Tengkorak Hominid dalam PajanganMuseum Osteologi
Paleontropologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul dan perkembangan manusia dengan fosil manusia purba sebagai objek penelitiannya dan merupakan salah satu dari cabang ilmu Biologi. Paleoantropologi berasal dari bahasa Yunani: παλαιός (palaeos) "tua, kuno", anthrōpos (ἄνθρωπος), "manusia", pemahaman akan kemanusiaan, dan -logia (-λογία), "ilmu"), yang merupakan kombinasi dari disiplin ilmu paleontologi dan antropologi ragawi, merupakan sebuah ilmu yang mempelajari manusia pada masa lalu yang ditemukan dalam bentuk fosil hominid seperti tulang dan tapak kaki yang mengalami petrifikasi.

Sejarah Paleoantropologi

Abad ke-18

Sejak masa Carl Linnaeus , kera besar dianggap sebagai relasi paling dekat dengan manusia, berdasarkan kesamaan morfologi. Pada abad ke-19, diperkirakan bahwa relasi terdekat dengan manusia adalah simpanse dan gorila, dan berdasarkan kemiripannya, diduga bahwa manusia memiliki nenek moyang yang sama dengan kera Afrika dan fosilnya pasti dapat ditemukan di Afrika.

Abad ke-19

Charles Robert Darwin.
Cabang ilmu ini diperkirakan muncul pada akhir abad ke-19 ketika terjadi penemuan penting yang berujung terhadap studi evolusi manusia. Hal tersebut adalah penemuan manusia Neanderthal di Jerman, karya Thomas Huxley yang berjudul Evidence as to Man's Place in Nature, dan karya Charles Darwin yang berjudul The Descent of Man merupakan awal penelitian paleoantropologi yang penting.
Cabang ilmu paleoantropologi modern dimulai pada abad ke-19 dengan penemuan "manusia Neanderthal" (yang ditemukan pada tahun 1856, tetapi di daerah lain terdapat penemuan tulang yang mirip sejak tahun 1830), dan dengan bukti yang menunjukkan bahwa temuan tersebut merupakan manusia gua. Ide bahwa manusia memiliki kemiripan dengan kera besar telah ada pada beberapa orang sejak lama, tetapi ide mengenai evolusi biologi mengenai spesies secara umum tidak diakui hingga setelah Charles Darwin mempublikasikan On the Origin of Species pada tahun 1859.
Walaupun buku pertama Darwin mengenai evolusi tidak mengacu kepada pertanyaan mengenai evolusi manusia—"light will be thrown on the origin of man and his history," ataucahaya akan terungkap pada masalah asal manusia dan sejarahnya,"merupakan pernyataan yang Darwin tulis pada buku tersebut—tetapi pembaca kontemporer mengerti bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk teori evolusi.
Debat antara Thomas Huxley danRichard Owen dipusatkan terhadap ide mengenai evolusi manusia. Huxley menggambarkan persamaan dan perbedaan antara manusia dan monyet pada bukunya yang diterbitkan tahun 1863 Evidence as to Man's Place in Naturedengan meyakinkan. Ketika Darwin menerbitkan bukunya sendiri dengan judul Descent of Man, buku tersebut telah terkenal untuk interpretasi mengenai teorinya—dan interpretasi tersebut yang membuat teorinya menjadi konroversial. Bahkan banyak pendukung Darwin (seperti Alfred Russel Wallace dan Charles Lyell) menolak dengan keras pendapat bahwa manusia dapat melakukan evolusi pada kapasitas mental mereka dengan tidak terbatas dan kepekaan moral melalui seleksi alam.

Paleontropolog terkenal

  • Robert Ardrey (1908–1980)
  • Davidson Black (1884–1934)
  • Robert Broom (1866–1951)
  • J. Desmond Clark (1916–2002)
  • Carleton S. Coon (1904–1981)
  • Raymond Dart (1893–1988)
  • Eugene Dubois (1858–1940)
  • Johann Carl Fuhlrott (1803–1877)
  • Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald (1902–1982)
  • Louis Leakey (1903–1972)
  • Mary Leakey (1913–1996)
  • André Leroi-Gourhan (1911–1986)
  • Kenneth Oakley (1911–1981)
  • Pierre Teilhard de Chardin (1881–1955)
  • Franz Weidenreich (1873–1948)

Arkeologi


Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuno" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan yang panjang. Di antaranya adalah yang disebut dengan paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, maka ilmu ini termasuk ke dalam kelompok ilmu humaniora. Meskipun demikian, terdapat berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain sejarah, antropologi, geologi (dengan ilmu tentang lapisan pembentuk bumi yang menjadi acuan relatif umur suatu temuan arkeologis), geografi, arsitektur,paleoantropologi dan bioantropologi, fisika (antara lain dengan karbon c-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak), ilmu metalurgi (untuk mendapatkan unsur-unsur suatu benda logam), serta filologi (mempelajari naskah lama).
Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metoda pengukuran karbon 14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba, meneliti DNAnya.
Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture).
Karena bergantung pada benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi (Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).

Terbit Lapak

Lapak

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by dyan123 - Premium Blogger Themes | cheap international calls